Tenggelamnya Nalar Kita

By :

|

|

Penulis: C. Gunharjo Leksono
Reviewer: Heni Mulyati

Mengenal Nalar
Kita mendapat anugerah dari Tuhan yaitu nalar. Itulah yang membedakan kita dengan binatang. Binatang tidak bisa berpikir, tidak memiliki akal budi, tidak bisa membedakan baik dan buruk. Sementara manusia bisa menggunakan nalarnya untuk menjadikan hidup menjadi bermakna.


Tapi yang terjadi di masa kini, di dunia yang serba modern, banyak manusia kehilangan nalarnya, tidak bisa berpikir kritis, tidak bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Mari kita lihat tengok sejenak dunia digital yang bisa dinikmati di handphone kita. Ada orang kehilangan uang jutaan rupiah gara-gara undangan pernikahan file apk (berkas aplikasi berbasis android). Yang lain saldo rekening tinggal Rp 50 ribu dikuras orang tak dikenal karena klik cek foto paket.apk, cek tagihan pln.apk, premi asuransi.apk, dan cek BPJS.apk.


Mari kita cek makna kata nalar, sesuai dengan KBBI: nalar2/na·lar/ n 1 pertimbangan tentang baik buruk dan sebagainya; akal budi: setiap keputusan harus didasarkan — yang sehat; 2 aktivitas yang memungkinkan seseorang berpikir logis; jangkauan pikir; kekuatan pikir; bernalar/ber·na·lar/ v mempunyai nalar; menggunakan nalar; berpikir logis. Jelas dan gamblang bahwa nalar identik dengan berpikir logis, bisa menimbang baik buruk sesuatu.

Nalar dan Media Digital
Kalau nalar kita jalan, ngapain kita klik file undangan pernikahan kalau kenal saja tidak? Ngapain kita cek foto paket lha wong pesan paket saja tidak? begitu seterusnya. Tapi, karena manusia yang kadang gampang terlena, atau sekadar ingin tahu, atau coba-coba, akhirnya diklik dan sengsara kemudian. Ganasnya teknologi digital, salah klik, tak bisa ditarik kembali atau dibatalkan.


Semua ini salah satunya hanya gara-gara pengguna handphone yang awam dengan masalah tipu-tipu digital. Coba bayangkan, kita hanya salah klik, saldo tabungan yang diisi dengan peluh keringat, hilang hanya dalam sekejap, dan tidak bisa kembali. Itu ujian besar terhadap nalar kita. Manusia yang bernalar menjadi manusia yang gampang digiring emosinya oleh pelaku kejahatan. Seolah, pelaku cyber crime, sudah hafal karakter netizen 62 (julukan untuk pengguna internet Indonesia), yang mudah emosian, tidak menggunakan pikiran jernih, malas belajar, mudah tergiur hadiah, malas kroscek kebenaran, dan ingin menjadi yang pertama di media sosial sehingga share ini share itu ke berbagai grup tanpa saring sebelum sharing.


Ada juga kasus investasi bodong, investasi yang menggiurkan, menawarkan keuntungan dalam waktu sekejap. Coba siapa tidak tertarik, ketika kita ditawari investasi akan mendapat keuntungan balik modal di atas 10 persen hingga 50 persen? Nalar manusia langsung hilang: cepat kaya dengan cara instan, menggandakan uang dengan cara cepat. Emosi serasa diaduk aduk ingin cepat kaya, lalu menyerahkan segala harta tabungan ke pelaku investasi, yang ternyata hanyalah investasi bodong. Dan yang terjerumus bukan hanya orang biasa, banyak tokoh publik, orang bergelar sarjana hingga gelar berderet lainnya, juga kena. Uang jutaan, miliaran, dan triliun, hilang dalam hitungan kedipan mata?


Lebih mengenaskan lagi, uang yang terlanjur diinvestasikan, dan ternyata investasi bodong, uang tidak bisa kembali, walau pelaku sudah berhasil ditangkap, diadili, dan dipenjara. Sebab, uang investasi bodong dianggap sebagai judi, ya berarti dianggap sebagai kalah judi. Nah, sudah ludes uang investasi, dan tak bisa Kembali. Mimpi indah menjadi mimpi terburuk dalam kehidupan umat manusia.


Nalar manusia juga bisa tiba-tiba tenggelam di dasar lautan ketika kita memasuki tahun politik. Hoaks mulai bermunculan, mulai dari pelemahan KPU, ketidakpercayaan kepada pemerintah, melawan semua kebijakan pemerintah, menghantam figur dan tokoh politik yang dianggap berseberangan, dan hoaks keji kepada figur atau tokoh publik demi persaingan di pilpres. Bukan hanya teman, tetangga, keluarga pun jadi renggang dan bermusuhan gegara hoaks.


Itulah fakta terkini. Perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Jangankan berpikir kritis, pelaku kejahatan mengaduk aduk emosi, dan banyak yang terjerumus. Berpikir kritis bukan sekadar jargon belaka. Bisa dipelajari, dicoba, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau hal itu dilakukan sejak dini, niscaya kita akan terbebas dari tipu-tipu digital, tipu tipu ala apk, tipu-tipu lainnya di dunia digital, dan bebas dari hoaks. Siapkah kita? Yuk, mulai berpikir kritis di segala bidang kehidupan! Agar kita tidak menyesal di kemudian hari. ***

Loading


Share