Flexing, Wajar tapi…

By :

|

|

Penulis: Cahya Suryani
Editor: Violita
Reviewer: Heni Mulyati

Fenomena Flexing
Perilaku bermedia sosial saat ini tidak terlepas dari konten berbagi. Tidak hanya berbagi informasi, berbagi pendapat, tetapi juga berbagi gaya hidup. Beberapa waktu lalu linimasa heboh dengan pemberitaan mengenai Mario Dandy anak pegawai pajak. Kasus Mario Dandy yang ramai tidak hanya mengenai pemukulan terhadap mantan pacarnya (Ag) tapi juga kasus flexing yang akhirnya menyeret harta kekayaan orang tuanya. Tidak hanya Mario Dandy, crazy rich lainnya pun sering kali membuat konten pamer outfit yang harganya jutaan bahkan ratusan juta, pamer jumlah saldo, ataupun pamer aksesoris yang sedang digunakannya. “Outfit yang gue pakai murah aja lho” sembari menyebut barang mewah berharga jutaan bahkan ratusan juta. Aksi pamer ini adalah bentuk flexing.


Flexing adalah perilaku memamerkan kemewahan, kekayaan melalui media sosial dengan tujuan mendapatkan pengakuan atau menarik perhatian orang lain. Perilaku ini seringkali berhubungan dengan gaya hidup individu yang diperoleh secara instan dan mudah tanpa melihat aspek kerja keras. Aspek lain dari flexing adalah pengakuan yang erat kaitannya dengan eksistensi diri. Remaja bahkan orang dewasa pun akan merasa memiliki nilai superioritas dan harga diri yang tinggi saat berhasil pamer kekayaan.


Flexing bukan fenomena baru, namun karena teknologi internet, perilaku ini semakin mudah dan masif menyebar melalui konten-konten yang dibuat oleh pengguna media sosial. Sewaktu belum ada internet, orang harus memamerkan secara langsung pada individu lain dan hal tersebut membutuhkan waktu dan tenaga. Kini individu dapat dengan mudah memamerkannya. Membuat konten foto atau video lalu mengunggahnya di media sosial, dan semua orang dapat melihatnya.


Sebenarnya, perilaku memamerkan keberhasilan, pengalaman ataupun aktivitas adalah hal biasa. Namun akan menjadi sebuah alarm psikologis jika dilakukan secara berlebihan dan melihat perilaku pamer sebagai bentuk eksistensi diri. Kehidupan di dunia nyata dan dunia maya seringkali berbeda. Saat individu mulai menampilkan kehidupan “wow” di dunia maya, saat itu pula dia berisiko terkena gangguan psikis. Individu yang selalu ingin eksis di dunia maya seringkali menutupi kelemahan atau kekurangan yang dimiliki di dunia nyata, di mana dia akan menampilkan superiority karena rasa inferiority.


Jika ditelaah lebih jauh, perilaku flexing ini tidak hanya dilakukan oleh generasi tertentu namun juga dilakukan oleh generasi lainnya. Anekdot yang berkembang bahwa generasi Z gemar flexing. Namun kenyataannya saat membuka media sosial, flexing juga dilakukan oleh generasi sebelum Z. Selain faktor rasa ingin diakui (superiority), flexing juga bisa dilakukan karena rasa tidak nyaman dengan kehidupan di dunia nyata, sehingga individu tersebut bisa menciptakan dunianya sendiri di ruang maya. Faktor ini berhubungan dengan dorongan ingin tampil berbeda dengan orang lain, memiliki harga diri yang rendah dan kesepian. Harga diri yang rendah bisa diartikan sebagai bentuk ketidakpercayaan pada diri akan kemampuannya. Flexing berlebihan yang dilakukan individu bisa membuat individu tersebut sombong dan merasa superior sehingga ada dorongan untuk mendapatkan perlakuan yang berbeda dari yang lain, mengakibatkan rasa arogan dan ingin mendominasi individu lainnya.

 

Dua Sisi Konten Flexing
Beberapa waktu lalu fenomena flexing ini dimulai dari konten-konten selebriti yang diunggah melalui platform media sosial mereka. Masyarakat mulai terpapar perilaku flexing yang dilakukan selebriti. Akun-akun media konvensional maupun akun gosip memberitakan gaya hidup selebriti yang dulunya hanya individu biasa namun saat ini memiliki kekayaan berlimpah. Influencer baru mulai bermunculan dengan konten–konten di media sosial yang menonjolkan kekayaan secara instan. Kehadiran internet khususnya platform media sosial memberikan kesempatan pada semua individu untuk tampil dan menjadi “superior”.


Di satu sisi, masyarakat masih belum memiliki pemahaman bahwa konten yang dibuat oleh selebriti bukanlah kondisi real mereka. Masyarakat mengira yang dibuat konten oleh selebriti adalah sesuatu yang nyata. Padahal konten-konten tersebut tidak lepas dari bagian pekerjaan mereka di dunia entertainment yakni menghibur orang. Semua individu pasti memiliki rasa iri dan akan melakukan perbandingan seperti “Kok dia bisa, sedangkan aku tidak?” ketika perasaan itu muncul individu akan memiliki dorongan untuk melakukan hal yang mirip atau bahkan sama, dan kesamaan dari perilaku tersebut hanyalah berupa duplikasi dari konten orang lain.


Perilaku flexing yang awalnya memiliki tujuan untuk disanjung dapat berbalik menjadi hujatan. Sudah banyak influencer media sosial yang awalnya disanjung karena keberhasilan usahanya pada akhirnya berubah menjadi hujatan dan komentar kebencian dari netizen. Oleh karena itu sangat penting untuk membangun kehidupan yang positif, menampilkan kesederhanaan dan apa adanya. Tidak ada yang salah dengan membagikan pengalaman dan keberhasilan, tapi tidak menjadikan hal tersebut hanya sebagai bentuk eksistensi diri. ***

Loading


Share