[ACARA] Kampanye STOP Hoax Indonesia di Bekasi

By :

|

|

Mafindo melalui program STOP HOAX INDONESIA (SHI) menggelar kampanye publik yang dikemas dalam kegiatan senam sehat, pemutaran film, dan talkshow di Stadion Candrabhaga Bekasi, 18 Agustus 2019. Foto: Dok Mafindo

#TurnBackHoax #STOPHoaxIndonesia #STOPHoaxBeAHero

Stadion Candrabhaga Bekasi, 18 Agustus 2019, MAFINDO melakukan kampanye publik yang dikemas dalam kegiatan senam sehat, pemutaran film, dan talkshow. Kampanye publik kali ini merupakan satu program MAFINDO yang diberi nama STOP HOAX INDONESIA (SHI). Sasaran utama dari program ini adalah melakukan edukasi dan sosialisasi bijak bermedia sosial yang salah satunya melakukan pengenalan digital hygiene kepada para ibu dan anak-anak muda.

Acara senam sehat bersama dimulai pukul 06.00 hingga 08.00. Sebelum memasuki sesi bincang-bincang, tim MAFINDO mengajak para warga ikut senam lagi di depan booth. Para warga makin tertarik berkumpul karena kami menayangkan peraga senam yang lucu dan menghibur di panel LED; senam pinguin, gummy bear dance, dan senam ponsel.

Para hadirin dipersilakan menyimak iklan layanan masyarakat yang ditayangkan di panel LED, menyusul juga penanyangan film pendek Keluarga Anti Hoaks yang sangat seru. Kiranya semangat kemerdekaan dan heroik makin terasa saat serial keluarga anti hoaks ini diputar. Bukankah melawan hoaks juga bagian dari semangat nasionalisme kita semua?


Pukul 09.00 tepat, sesi bincang-bincang dibuka oleh Heni Mulyati sebagai moderator acara yang menyapa seluruh peserta. Teguh Arifiyadi medapat kesempatan awal berbagi ilmu dengan para pemirsa yang hadir. Meski panas matahari mulai menyengat, rasanya tak sia-sia mendengarkan sharing knowledge dari Kepala Subdit Penyidikan Kominfo ini.

“Dalam mengakses internet, kita mengenal 2 prinsip utama ini, yaitu anonymitas dan tanpa batas,” ujar Teguh Arifiyadi memulai perbincangan. Namun banyak yang tidak diketahui oleh masyarakat awam, bahwa ketika kita membuat status di media sosial, rekam jejak postingan kita akan tertinggal. Rekam yang tersimpan ketika posting adalah pada; perangkat seluler kita, aplikasi, dan di provider (operator telekomunikasi).

Itu sebabnya prinsip anonimitas dan tanpa batas itu pun sebenarnya masih ada rentetan aturan dan etik yang berlaku di belakangnya. Meski kita punya hak sebagai “tanpa nama” di sebuah situs web atau blog pun, perangkat gadget yang kita pakai dapat memberikan jejak “kegiatan digital”, melalui pelacakan IP. Kominfo ataupun polisi siber bisa mengetahui lokasi keberadaan kita. Pada dasarnya pembentukan regulasi seperti UU ITE ditujukan untuk mengatur beberapa hal untuk melindungi orang lain dari penyalahgunaan prinsip anonymity dan borderless.

Teguh Arifiyadi mencontohkan beberapa kasus persekusi yang salah sasar, karena orang yang dipersekusi tenyata bukan yang dimaksudkan sehingga menyebabkan kericuhan di masyarakat. Merangkum dari jawaban Teguh Arifiyadi atas beberapa pertanyaan warga yang hadir di acara tersebut, kita perlu berhati-hati pula pada beberapa akun yang sengaja dibuat untuk memprovokasi, menyebar berita hoaks, dan hasut.

Media sosial serupa dengan baju yang kita kenakan. Kita punya hak menyablon tulisan apa saja di baju, entah itu tulisan perasaan atau curhatan, tapi ketahuilah bahwa tulisan buruk pada baju anda akan menstimulasi orang lain untuk melakukan tindakan tak baik juga. Dan kita tidak pernah tahu bagaimana respon orang berbeda-beda pada tulisan yang tak pantas di baju yang kita kenakan. So, tulislah hal-hal baik di media sosial anda sebagaimana anda menulis kata-kata di baju anda.

Sesi bincang selanjutnya disusul oleh Anita Wahid, salah satu presidium MAFINDO. Anita Wahid menyoroti tingkat kebencian yang meningkat di masyarakat, karena pada dasarnya berita hoaks yang sengaja diedarkan saat ini melalui media sosial memiliki kecepatan lebih, untuk sampai ke masyarakat. Dampak persebaran hoaks saat ini lebih besar ketimbang persebaran gosip atau berita bohong sepuluh atau dua puluh tahun lalu, saat internet dan gadget belum digunakan semassif sekarang. Semakin viral berita hoaks, semakin mudah kebencian disebarkan.

Anita Wahid menandaskan dua macam hoaks; pertama jenis misinformasi yaitu berita bohong yang tidak sengaja disebarkan (ada faktor ketidaktahuan dari si penyebar) dan disinformasi yaitu berita bohong (fake) yang sengaja dibuat untuk menutupi berita yang sebenarnya. Selalu ada dampak negatif dari berita hoaks yang beredar di masyarakat, seperti misalnya berita tentang telur palsu. Hoaks disinformasi biasanya membawa agenda tertentu, misalnya untuk tujuan kampanye atau ingin menggiring masyarakat kepada satu ideologi tertentu.

Anita Wahid mengatakan bahwa siskamling digital perlu digalakkan. Dari tahun 2015, MAFINDO digawangi oleh para pemeriksa fakta menemukan pola peningkatan berita hoaks dari tahun ke tahun. Tahun 2015, tercatat 10 hoaks per bulan. Tahun 2018, 58 hoaks per bulan. Tahun 2019, rata-rata 100 hoaks per bulan.

Tahun politik menjadi tahun yang paling massif peredaran hoaks, baik pilkada maupun pilpres. Tak kurang beberapa dari kita harus putus silaturahim karena perbedaan pandangan politik – yang tentunya diperuncing dengan maraknya edaran konten hoaks politik di internet.

Sadar atau tidak, sebenarnya hoaks bisa menyerang siapa saja, dan tanpa kita ketahui kita bisa saja sudah percaya pada berita hoaks itu. Anita Wahid memberikan contoh sederhana saat kita mendengar gossip a, b, c, d, e, dst tentang orang lain. Orang itu selalu ‘dicitrakan negatif’ oleh orang lain kepada kita, dan karena terus-terusan kita mendengar hal buruk tentang orang tersebut, kita jadi BERANGGAPAN bahwa orang itu sebagaimana adanya yang dikisahkan. “Dia itu pelakor, dia itu janda miskin, dia itu tukang ngutang, dia itu suka jahat, dan lain sebagainya.” Sehingga saat dia lewat depan rumah kita dan tanpa sengaja beramah tamah dengan suami kita dengan sekadar melemparkan senyuman, dalam hati kita bersorak, “ Fix! Orang ini memang demikian”.
Saat itulah kita sedang percaya pada hoaks yang bisa jadi belum tentu benar.


Turut hadir pula Bapak Bambang Kepala Polsek Bekasi Selatan mewakili Kapolres Kota Bekasi, yang mengajak warga untuk turut serta dalam memberantas hoaks. Beliau menggarisbawahi pentingnya berhati-hati dalam memposting status di media sosial, dan berharap kota Bekasi bebas dari hoax.

Acara Stop Hoax Indonesia di Bekasi kali ini berjalan sangat meriah dan dapat dibilang sukses. Yani Sujaya selaku koordinator MAFINDO Chapter Jakarta mampu menjembatani program ini untuk dikerjakan bersama para relawan MAFINDO yang berada di Bekasi. Ada banyak relawan di sana yang kiranya nanti akan terus melakukan kegiatan edukasi dan sosialisasi bijak bermedia sosial dan lawan hoaks di Bekasi.

Stop Hoax Indonesia tidak hanya melakukan edukasi dan sosialisasi di satu kota, per-tanggal itu, MAFINDO hadir di Car Free Day di lima Kota Besar lainnya; Bekasi, Bandung, Semarang, Jogjakarta, dan Solo.

Jadi pahlawan tidak harus punya kekuatan super. Cukup tahan jarimu, bikin konten yang positif dan ajak orang untuk bersatu menjaga negeri ini.

Salam,
MAFINDO Jakarta

======

Sumber: http://bit.ly/2KV1lpl.


Share